Breaking News

Tuesday, October 30, 2012

Tips : Bagaimana Cara Menitipkan Barang Dagangan Ke Tempat Perbelanjaan

Print or PDF

Akhir-akhir ini saya sering memikirkan untuk memulai usaha, berawal dari usaha kecil karena memang modal yang dimiliki pun sangat kecil, hehe. Beberapa pekan yang lalu saya sedang belajar membuat suatu karya, (maklum saya bukan seorang yang kreatif) tidak tahu juga awalnya dari mana, saya tertarik dengan rajutan, rasanya belum puas hati saya ketika saya belajar namun saya belum menghasilkan, dan saya ingin sekali menjual atau menjajakan hasil karya/ hasil buatan saya ini, biar saya tahu apakah buatan saya ini sudah bisa bersaing di dunia bisnis, setelah saya perhatikan bahan-bahan rajutan memang banyak di minati dari semua kalangan. 

Bila tidak dengan modal yang cukup, tentu saya berpikir ulang untuk menyewa ruko / tempat untuk membuka usaha, lalu bersama dengan teman / orang-orang terdekat saya (tentunya yang mendukung saya juga) saya memikirkan dengan langkah awal. Saya dengan teman saya membuat dan berencana menitipkan barang buatan sendiri kepusat perbelanjaan, untuk orang seperti saya dan teman-teman yang belum ada pengalaman/ bisa di bilang pemula tentu kebingungan bagaimana cara kita menitipkan barang ke tempat-tempat pusat perbelanjaan seperti pada judul di atas. :)

Berikut Pak Achmad Gozali, dari perencanaan keuangan menjelaskan cara bagaimana menitipkan barang dagangan ke tempat-tempat pusat perbelanjaan.

Bila ingin menitipkan dagangan ke pusat perbelanjaan terlebih dahulu hubungi Divisi yang menangani supplier di supermarket tersebut. Mintalah detail dan jelas tentang skema kerja sama yang ditawarkan supermarket tersebut karena tiap supermarket mempunyai sistem yang berbeda-beda. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah kualitas dan kuantitas barang yang diminta. Kemudian harga yang disepakati apakah sudah menutupi semua ongkos produksi dan memberi keuntungan. Teliti juga bagaimana sistem pembayarannya agar tidak menganggu arus kas usaha. Kemudian bagaimana pengiriman produknya apakah sesuai dengan kemampuan produksi Ibu, pengemasan, dan perhatikan juga soal retur (pengembalian bila tidak laku terjual).

Biasanya supermarket besar menggunakan sistem konsinyasi (titip jual) bagi para pemasoknya, dengan margin yang didapat sekitar 10 – 15 %. Margin ini diperoleh dari selisih antara harga dari pemasok dengan harga penjualan. Hanya yang agak disayangkan masih banyak supermarket yang menerapkan sistem ini dalam tempo 2 – 3 bulan.. Kondisi ini menyebabkan pemasok harus siap permodalan yang besar untuk menutupi ongkos produksi berikutnya. Faktor lain yang perlu diperhatikan bila memasok barang ke supermarket adalah sistem minus margin, artinya pemasok tak boleh menjual produk ke peritel lain dengan harga lebih rendah. Tetapi praktek seperti ini sudah jarang karena dianggap kurang fair, meskipun diluar negeri menjadi hal yang wajar agar menjadi jaminan agar pemasok memberinya harga termurah sehingga peritel bisa menjaga harga jualnya pada konsumen.


Semoga bermanfaat yaa... :)



SaLaM SeManGat
FNU


0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...